- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Cairan serebrospinalis (CSS) mempunyai tiga fungsi penting, yaitu:
1. Mempertahankan keutuhan jaringan otak dengan bertindak sebagai shock absorber,
2. Sarana untuk membawa asupan nutrisi bagi otak dan membuang sisa-sisa metabolisme otak, dan
3. Mengkompensasi perubahan volume darah intrakranial.
Keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan serebrospinalis sangat penting. Idealnya cairan tersebut sepenuhnya akan diserap ke peredaran darah. Namun, ada beberapa keadaan yang menghentikan atau mengganggu produksi, absorpsi, atau menghambat aliran CSS normal sehingga mengganggu keseimbangan. Keadaan ini disebut hidrosefalus. Hidrosefalus adalah kelainan pada kepala yang mengakibatkan kepala terlihat lebih besar dari ukuran normal karena adanya kelebihan cairan pada kepala.
1. Mempertahankan keutuhan jaringan otak dengan bertindak sebagai shock absorber,
2. Sarana untuk membawa asupan nutrisi bagi otak dan membuang sisa-sisa metabolisme otak, dan
3. Mengkompensasi perubahan volume darah intrakranial.
Keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan serebrospinalis sangat penting. Idealnya cairan tersebut sepenuhnya akan diserap ke peredaran darah. Namun, ada beberapa keadaan yang menghentikan atau mengganggu produksi, absorpsi, atau menghambat aliran CSS normal sehingga mengganggu keseimbangan. Keadaan ini disebut hidrosefalus. Hidrosefalus adalah kelainan pada kepala yang mengakibatkan kepala terlihat lebih besar dari ukuran normal karena adanya kelebihan cairan pada kepala.
Anamnesis
– Pada bayi: daya hisap jelek, iritabel, aktivitas berkurang, dan muntah.
– Pada anak kecil: pertumbuhan mental lambat, nyeri leher, muntah, pandangan kabur, penglihatan ganda-akibat papiledema dan atrofi optik, pertumbuhan, dan maturasi seksual terhambat (menyebabkan obesitas dan awitan pubertas yang tertunda atau terlalu cepat), kesulitan berjalan hingga spastisitas, dan mengantuk.
– Pada orang dewasa: fungsi kognitif terganggu, nyeri kepala, nyeri leher, mual, dan muntah, penglihatan kabur, penglihatan ganda (gangguan nervus VI), kesulitan berjalan (apraksia berjalan), mengantuk, dan inkontinensia.
– Pada hidrosefalus tekanan normal (NPH [normal pressure hydrocephalus]): gangguan gaya berjalan, demensia inkontinensia urin, perilaku agresif, Parkinsonisme, dan kejang.
– Pada bayi: daya hisap jelek, iritabel, aktivitas berkurang, dan muntah.
– Pada anak kecil: pertumbuhan mental lambat, nyeri leher, muntah, pandangan kabur, penglihatan ganda-akibat papiledema dan atrofi optik, pertumbuhan, dan maturasi seksual terhambat (menyebabkan obesitas dan awitan pubertas yang tertunda atau terlalu cepat), kesulitan berjalan hingga spastisitas, dan mengantuk.
– Pada orang dewasa: fungsi kognitif terganggu, nyeri kepala, nyeri leher, mual, dan muntah, penglihatan kabur, penglihatan ganda (gangguan nervus VI), kesulitan berjalan (apraksia berjalan), mengantuk, dan inkontinensia.
– Pada hidrosefalus tekanan normal (NPH [normal pressure hydrocephalus]): gangguan gaya berjalan, demensia inkontinensia urin, perilaku agresif, Parkinsonisme, dan kejang.
Pemeriksaan Fisik
– Bayi: pembesaran kepala, sutura kepala melebar, dilatasi vena kulit kepala, peregangan fontanela, mata seperti matahari tenggelam, dan peningkatan tonus tungkai.
– Anak kecil: papiledema, tidak dapat menatap ke atas, gaya berjalan tidak stabil, pembesaran kepala, kelumpuhan nervus VI unilateral, atau bilateral.
– Dewasa: papiledema, tidak dapat menatap ke atas dan melakukan akomodasi merupakan tanda tekanan pada tectal plate, gaya berjalan tidak stabil berhubungan dengan ataksia trunkus, tungkai, dan lengan. Biasanya didapatkan spastisitas tungkai, pembesaran kepala, kelumpuhan nervus VI unilateral, atau bilateral.
– NPH: biasanya tidak terdapat kehilangan fungsi sensoris, kekuatan otot biasanya normal, peningkatan refleks fisiologis, refleks Babinski mungkin ditemukan pada kedua kaki.
– Bayi: pembesaran kepala, sutura kepala melebar, dilatasi vena kulit kepala, peregangan fontanela, mata seperti matahari tenggelam, dan peningkatan tonus tungkai.
– Anak kecil: papiledema, tidak dapat menatap ke atas, gaya berjalan tidak stabil, pembesaran kepala, kelumpuhan nervus VI unilateral, atau bilateral.
– Dewasa: papiledema, tidak dapat menatap ke atas dan melakukan akomodasi merupakan tanda tekanan pada tectal plate, gaya berjalan tidak stabil berhubungan dengan ataksia trunkus, tungkai, dan lengan. Biasanya didapatkan spastisitas tungkai, pembesaran kepala, kelumpuhan nervus VI unilateral, atau bilateral.
– NPH: biasanya tidak terdapat kehilangan fungsi sensoris, kekuatan otot biasanya normal, peningkatan refleks fisiologis, refleks Babinski mungkin ditemukan pada kedua kaki.
Referensi
Panduan Praktis Diagnosis dan tata Laksana Penyakit Saraf
Comments
Post a Comment